Maut di Rinjani

Diantara awan-awan yang meninggi,

mereka berjalan bersama maut yang menanti.

Menembus kabut yang kian menyelimuti,

untuk bisa merasakan megahnya Dewi Anjani.

Aku rindu belaimu,

belai dari angin yang menderu dan pasir yang menyesakkan rongga paruku.

Sakit itu yang selalu kunikmati tiap detiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: