Ode Untuk Jayagiri

Debar suar motor hilir mudik Berlalu lalang meniupkan debu Terbang melanglang ke segala penjuru Lalu tinggal di kemeja, tinggal di tenda, tinggal di tengkuk dan tengkuluk, tanggal oleh hujan. Mekar bersama belukar, turun diantara kabut, melengking bagai ringkik kuda.   Seperti debar rinduku Di jajaran pohon pinus Di Bukit Jayagiri yang mengalahkan semua suara, semua... Continue Reading →

Advertisements

Bertemu Sendiri

Ada yang dapat membunuhmu lebih daripada angin dan dingin yang kau jumpai semalam. Orang-orang biasa memanggilnya sunyi atau sepi, aku menyebutnya; Sendiri. Api mampu melenyapkan satu perumahan bahkan satu kota dalam hitungan satu malam. Membakar lembar-lembar potong daging dan menghangatkan perut-perut yang kelaparan. Sedang sendiri; Dapat menidurkanmu dari segala macam gaduh dan keramaian orang-orang di kota maupun... Continue Reading →

Membicarakan Rembulan

Sudahkah kau lihat rembulan kemarin malam? Bagaimana sunggingnya terlihat? Tak hanya sekadar melihat, coba tengadahkan kepala dan tangan telanjang itu ke arah langit malam. Sungging senyumkah, atau gelisah muram yang terlukis? Kenyataannya menjadi merekah kemudian meringis. Ahhh kekasih, rembulan 'kan semakin surut nampaknya. Dengan cara apa kita akan membunuh malam minggu nanti? "Bagaimana dengan menganyam... Continue Reading →

Matamu dan Hari-Hari yang Terik

Hal yang sempat aku sadari akhir-akhir ini ialah; Matamu adalah payung yang meneduhkan setelah senyum itu, untuk hari-hari yang terik seperti hari ini misalnya. Yang kiri dapat menjadi peneduh ego-ego yang dimainkan oleh luapan perasaaan, sedang yang kanan dapat menjadi peneduh untuk jalanan dan perjalanan-perjalanan yang panjang. Ia juga bisa menjadi teman dalam menyeduh apa yang... Continue Reading →

Jatuh Dari Ketinggian

Di kota kelahirannya itu, angin malam sepanjang jalan menuju Kaliurang melemahkan dirinya yang kelelahan. Dingin air dari keran pemandian pun membuatnya mengigil hebat. Melebihi dingin dari Puncak Semeru ataupun Rinjani. Namun tetap ia hembuskan kepulan asap rokok dari mulutnya, dibarengi oleh napas yang memberatkan kepalanya kemudian. Kakinya tak kuat lagi menopang tubuh yang gemetaran, pandangannya menjadi... Continue Reading →

Melepas Camar

Semesta selalu punya caranya sendiri dalam menuang kebahagiaan. Siang ini, biru langit menjadi sangat dalam. Awan menjadi tipis-tipis, bergerak cepat karena mudah tertiup angin. Sulur pepohonan di kejauhan meneduhkan bola mata yang memerah, perih mengantarkan kepulangan para pencari ikan di antara teluk dan semenanjung. Batuan karang yang menjulang menjelma sarang bagi seekor camar yang kehilangan... Continue Reading →

Menamai Diri

Hari ini kita menjalani hari yang enggan disebut Senin, ia lebih suka dipanggil hari libur, tentu kita yang menamainya. Pagi menghidupkanku kembali, dari wudhu yang mengering dan amin yang paling nyaring. Mata mendadak bersahabat dengan matahari, tubuh juga menyukai air untuk mandi dan perut yang merindukan waktu sarapan terakhirnya. Dijalan, kudengar orang-orang menangis dan mengemis di... Continue Reading →

Penamatan

Bertepatan dengan hari ini, empat belas hari tanpa sapa yang terucap, tanpa pandang yang saling menatap. Kemana saja aku kali ini, kemarin-kemarin, esok atau lusa? Tutup gerai yang selalu terbuka dan juga berdebu itu. Simpan jam kesukaanku, basuh sesekali dan biarkan ia mendarat dimanapun ia mau. Seorang tukang pos datang membawa surat kabar yang berisikan... Continue Reading →

Habis

Lihatlah sekarang, Putri benar menjadi tangis. Ia dijejali beratus raga, diinjaki beribu langkah. Digerus entah berapa lingkar roda-roda kekar yang berlalu lalang. Mereka datang dengan tidak memedulikan bahwasanya esok mereka harus mengais nasi lagi, mencuci baju tidur, mengganti oli motor dan mengantre di lampu merah. Mereka kuat dan kita lelah sementara mesin-mesin akan tetap bekerja sebagaimana... Continue Reading →

Putri Kembali Seperti Bayi

Putri hari ini kembali seperti bayi, orang-orang dewasa tidak lagi berkunjung seperti liburan diakhir pekan. Mereka mengais nasi, mencuci baju tidur, mengganti oli motor, mengantre di lampu merah. Rokok menjadi candu kali ini. Satu bungkus tidak menjadi cukup, perlu dua atau bahkan tiga sampai matahari kembali  melindap. Seperti kicau burung, atau serangga-serangga yang bersenggama di balik... Continue Reading →

Kau Menunggu Dikantukku

Lima hari di libur nasional yang kita namai waktu itu seperti radio tua di museum yang dipadati pengunjung, ia tidak ingin dipindahkan atau dibeli atau dipulangkan karena rumahnya dirasa terlalu nyaman untuk dihuni. Kau mencintai air liurku yang menetes di sofa dan kursi-kursi kereta. Juga rengekku yang menolak untuk dibangunkan karena kita harus mengejar matahari sebelum... Continue Reading →

Mimpi Tadi Malam

Ada seorang anak yang ingin pulang dan mati diperjalanan dan dimakamkan di halaman rumahnya, seperti ari-ari yang dikuburkan ayahnya sewaktu ia lahir ke bumi. Ada yang selalu dicari dari dalam dirinya yang bersedih dan bertanya: kenapa padi semakin merunduk dan kembali tegak ketika hendak dipanen. Tanpa kau sadari, kau tak pernah terlihat cantik di internet... Continue Reading →

Menikmati Sore di Bandung

Aku ingin menghabiskan sore hari ini di Bandung bersamamu, kekasih. Bermacet ria sepanjang Jalan Jawa menuju Sunda, mengantre bersama kendaraan berplat luar kota. Di Dago, aku melihat polisi melambai-lambaikan tangannya seperti penari latar pada konser Beethoven atau Seriosa di Italia. Menyaksikan lampu di Jalan Asia Afrika yang menyala satu persatu menggantikan cahaya matahari, orang-orang berkostum... Continue Reading →

Memulangkan Rindu

Aku ingin memulangkan rindu, yang ku pinjam sepulang perjalanan kita di muka gerbang stasiun dua minggu lalu, sebelum kembali pergi. Di ujung bibirmu hinggap seekor kupu yang menetas dari biji buah pinus berwarna kuning langsat. Aku ingin memulangkan rindu, yang kau titipkan sebelumnya di seutas tali bertekstur kulit, terukir nama penaku diujungnya. Hari ini kau... Continue Reading →

Kata-Kota #2

Rembulan di enam hari terakhir; jarang sekali kau tengok keberadaannya. Sebab setiap kau hendak menengoknya keluar jendela, kau malah merasa lebih nyaman untuk berbaring di ranjang abu itu sehabis mengerjakan tugas sekolahmu. Kau mengawang ke langit-langit kamar, berharap gantungan bintang yang kau tempel berubah menjadi sepasang bola mata agar setiap kau tertidur ada yang mengawasi... Continue Reading →

Kata-Kota #1

Dengan mengeritkan dahi juga suara yang pelan, perlahan kamu bertanya, "Apakah masih ada harapan nanti?" "Sepertinya masih, di luar kota." Di dalam kota, kumandang adzan terus-menerus bersahutan silih berganti. Seorang imam dan seorang makmum berselisih mengenai seorang masbuk yang tiap harinya terlambat mengucap takbir pertama secara berjamaah. Bapak tua yang rambutnya tinggal separuh lagi berwarna... Continue Reading →

Berdialektika dengan Puisi Chairil #Aku

Aku ingin menjadi seperti Chairil, binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Kalau sampai nanti lelahku tiba, kau boleh bersedu sedan semaumu, merayu dengan bunga, waktu, dan kata-kata ajaibmu di halaman ke sepuluh. Aku memang bukan binatang jalang seperti Chairil, tapi aku ingin menyerupainya... Peluru sudah menembus kulitku, sayangnya berlapis-lapis dan mungkin sudah mau habis. Aku tak... Continue Reading →

Perjalanan Untuk Mengenang

Aku ingin berjalan bersamamu dan menuliskan banyak puisi, *** Rupanya aku memang akan berjalan bersamamu pada nantinya, melahirkan cerita-cerita baru, membangkitkan kenangan-kenangan terdahulu, melupakan yang sebentar-sebentar, dan meluapkan yang ditinggal -setengah pasrah. Tapi apa bisa aku menuliskan banyak puisi seperti yang sudah-sudah? Hak-hak sepatu maupun sendal yang kita kenakan akhirnya mendapatkan haknya lagi sebagaimana mestinya.... Continue Reading →

Mengejar Pengantar Rindu

Sebelas hari kemarin aku merasa seperti seorang atlet lari di kejuaraan estafet yang dimana setiap orang yang menjadi penerusnya adalah diriku sendiri. Jika dalam satu putaran jarum jam terdapat lima belas angka, aku yang selalu mengisi angka sebelum satu dan setelah dua belas. Mengejar pengantar rindu adalah hal yang sia-sia dilakukan, karenanya rindu itu sendiri... Continue Reading →

Hari ke Tujuh Puluh Tiga

Malam tak akan berganti pagi jika matahari belum memintai izin kepada bulan untuk memulai hari. Begitu pula bulan yang belum meminta restu kepadamu yang pulas tertidur di meja kantor bersama setumpuk kertas berisi hasil wawancaramu dengan sore. Tinta pulpen mengering sebab tak kau tutup semalaman akibat lelah yang menjadikannya kantuk. Sekarang kau kebingungan mencari serutan... Continue Reading →

Persimpangan yang Terlewati

Sajak yang pernah kau tulis ini, pernah menemukanku lagi disini. Kata yang pernah kau buat ini, berkali-kali aku temui dan singgahi. Mungkin kau dan sajak ini seperti jalanan macet di antara Jakarta dan Bekasi. Sedang aku dan sajakmu barangkali adalah lampu merah dan pengendara motor di baris terdepan persimpangan tengah kota. Aku adalah seorang anak... Continue Reading →

Jalanan atau Puisi yang Kau Tempuh

Jalanan yang kau lalui sendiri, tak akan bisa membawamu dari kesendirian ke kesunyian, juga tempat paling indah di muka bumi.   Puisi yang aku tulis sendiri, tak akan mampu menggambarkan kesenangan anak kecil yang berlarian di hutan, atau teriakan dari supporter bola yang menonton piala dunia di pagi buta.   Jalanan atau puisi yang kau... Continue Reading →

Juni

Juni adalah bulan yang berat, ritme kehidupan yang datang berlipat-lipat, segelintir pekan bergelinding meniadakan. Juni adalah berkah, dua tiga tetes peluh berbuah anugerah. beriringan dengan bulan penuh rahmah. Juni adalah pembelajaran, tentang apa itu arti mengikhlaskan. tentang cukup. Juni adalah perjalananan, yang aku lalui dengan kekhawatiran, mimpi yang tak pernah berakhir, masa depan yang tak... Continue Reading →

Di Balik 162 – Bagian III

Satu hutang telah lunas terbayar, tentu melalui proses yang panjang. Selama ini hampir menghabiskan waktu selama dua tahun lebih. Tinggal satu piutang lainnya. Bertepatan dengan tanggal kelahiranku, suatu janji telah disepakati. Pertemuan akbar bagiku, bagimu? baginya? bagi mereka? peduli apa. Selalu kusempatkan untuk menyelesaikan suatu hal yang memang harus, walau menyita waktu tenangku, tak mengapa.... Continue Reading →

Dua Puluh Dua ke Dua Puluh Dua

Mari menghitung tahun, atau menghitung lilin. Usia sudah melahirkan angka kembarnya, sedang api tak pernah ada dan menyala. Seseorang baru saja kehilangan yang datang- dua hal dalam satu hari. Hidup baknya sebuah lilin, menyala untuk habis. Menerangi sementara, padam kemudian. Namun selama penghujan tak pernah mampu menghapus kemarau, juga jarak, umur selalu tabah menziarahi dirinya.... Continue Reading →

Mudik

Sejatinya mudik ialah pulang ke kampung halaman, untuk bertemu keluarga atau merindui tanah tempat kelahirannya. *** Hanya dengan indomie kuah, rasanya sahur terakhir ini terasa begitu nikmat. Warung tegal ini juga sudah sepi pengunjung, jalan-jalan di depan kosanku pun demikian. Jakarta sedang tidak menjadi Jakarta sekarang. Keretaku berangkat pukul 07.50, karenanya selepas sahur di hari terakhir... Continue Reading →

Yang Membuat Jatuh Cinta Pada Jakarta

Jalanan di Jakarta memang tidak cocok dipakai untuk menikmati hari sambil berkendara. Semua pengendaranya semerawut! Yak, semuanya. Seperti berlomba untuk mengalahkan Casey Stoner di balap Motor GP. Saling berkeinginan untuk menyusul apa saja itu yang berada di depannya, tapi tidak pada hari-hari menjelang hari raya! Sekarang H-1 menuju lebaran, kelenggangan jalannya melebihi jalan-jalan di desaku.... Continue Reading →

Waktu Puasa

Apa iya semakin dewasa kita, puasa terasa semakin singkat saja? Seperti baru beberapa hari kemarin kita berbuka di hari pertama, kedua, ketiga, besok-besok ternyata sudah menjadi hari raya. Atau karena, kita terlalu disibukkan dengan hal-hal yang bersifat duniawi? Harta, tahta, wanita? Sehingga lupa bahwa hari ini, hari-hari lalu adalah sebaik-baiknya waktu mencari dan mengumpulkan pahala... Continue Reading →

Refleksi di Taman Ismail Marzuki

Selepas kumandang adzan Isya di masjid sebelah, perutku berkonstruksi meminta makan, tak seperti biasanya begini. Tapi benar begitu adanya. Ia merengek seperti bayi yang masih tersambung dengan tali pusarnya. Lapar dan haus mendahaga kali ini. Padahal aku sedang ingin bermalas-malasan di kamar kosan. Memang aku hanya berbuka dengan seteguk air mineral dan dua batang rokok,... Continue Reading →

Merawat Malam

Sudah dua atau tiga hari terakhir ini aku tidak merawat malam, sore selalu lebih pintar rupanya dalam perihal menjaga. Setiap datang ia selalu menggendongku secara perlahan, menyuapiku dengan sabar, meninabobokan mataku dari matahari siang. Kadang juga ia membawakanku sepenggal senja, yang tersaji di loteng kosan, di gang-gang kumuh ibu kota, di sepanjang Jalan Lapangan Bola,... Continue Reading →

Simpul

"Kemari! Aku bawakan kau seutas tali", Ku bagi menjadi dua saja. Masih saling putus, tapi tiap-tiap ujungnya ku pertemukan dengan sebuah simpul. Yang mengikat kedua bilah tangan, kiri dan kanan. Kiri yang mengikat pergelanganmu, dan kanan di pergelanganku. Agar dia tau siapa yang selama ini mengikatnya, terikat dengannya, terhubung dengannya. Agar dia tau arah jalan... Continue Reading →

Menjadi Petani

Aku adalah petani yang kerap menyemai benih-benih yang ku beli dari telapak tanganmu. Di warung-warung penjual miras yang memabukkan, di bawah jembatan tol yang membelah Buah Batu - Soreang, di surau-surau berubin kayu, berpasak bambu. Pernah suatu siang di penghujung pekan; aku yang menabur, kamu yang memupuk, kita yang menuainya bersama. Lalu kamu pergi mengudara... Continue Reading →

Tualang Gila

Bolehkah kau bagi sedikit terangmu, kekasih? Untuk seorang tualang yang tersesat di gemerlap ibu kota. Andai harus aku meminta, aku meminta! Andai harus aku mengemis, aku mengemis! Jika aku meminta sia-sia, jika aku mengemis sia-sia, maka akan aku tunggu hujan reda, di pelupuk. Kemana hembusnya angin di lembah gunung, dan kemana deburnya ombak di tepi... Continue Reading →

Penghujung Mei

Sudah sampai di penghujung Mei lagi, pun bulan sudah mencapai bentuk purnamanya. Perlahan musim menjadi kemarau, akar-akar tak lagi sanggup menjalar ke pagar rumahmu. Hanya tinggal doa-doa yang mampu menyusup lewat ventilasi kamar, berbaring bagai selimut, bagai sampan dan seorang pelaut yang karam di tepian danau. Begitu rajinnya kau dengan buku-buku itu, lalu tertampung semua... Continue Reading →

Di Balik 162 – Bagian II

Dimulai dari sini mungkin : Setiap orang memiliki gurunya masing-masing, Setiap orang juga memiliki panutannya masing-masing, bisa dari seseorang atau pula dari sebuah perjalanan.   Panutan berasal dari kata dasar anut yang berarti; mengikuti, menuruti, memeluk suatu haluan. Kata anut mengalami proses morfologis dengan afiksasi akhiran -an. Bentukan anutan itu sendiri berarti; contoh yang baik,... Continue Reading →

Di Balik 162 – Bagian I

Kamu tentu harus menyelam lebih dalam untuk dapat mengetahui hal ini. Lalu bagaimana caranya agar kamu dapat menyelam lebih dalam? "Berlatih lebih banyak!", katamu begitu yakin. "Mungkin...", gumamku.   Tidak perlu berlatih pun kau bisa menyelaminya, pikirku. Lantas bagaimana? Bingung kau sejadi-jadinya. Kau hanya perlu melihat-lihat dari permukaannya, perbanyak bertanya, bukan hanya ke satu orang... Continue Reading →

S o r e

Sore tidak pernah marah, kekasih. Hanya caranya untuk memasung kita saja yang berbeda, sebentar! Biar aku menuang kembali cawan-cawan kosong ini lagi, biar aku menaung kembali ingatan-ingatan kopong itu lagi. Aku sedang berusaha untuk menjadi asing sekarang, agar tidak kaget dengan bibirmu yang menjadi bising. "Pulang saja..", katamu, sedang aku hanya diam menunggui adzan maghrib.... Continue Reading →

Berapa Sajak Lagi?

Sama seperti yang sudah-sudah, kita berkumpul lagi untuk merayakan akhir pekan dengan menghabiskan gelas-gelas kopi itu. Kita bersama beranjak pergi, lalu bersama bergegas pulang. Kamu kembali ke rumah, aku tetap berjalan lurus. Berapa lama lagi waktu kita untuk menyadarkan? Semua yang ditinggal tak kunjung siuman, kamu menyerah pada kebiasaan. Sepertinya aku pun 'kan demikian. Dua... Continue Reading →

Apa Iya Aku Pulang?

Kabar bahwa sang pejalan itu akan pulang sampai ditelingaku, Kemana tujuanmu? Berlabuh di dermaga ini, atau mendarat di bandara itu? Entah seperti apa nantinya, aku hanya sedang menantikanmu pulang...   5 Mei 2018, Selalu ada alasan dibalik kepulangannya, tapi kali ini rasanya berbeda. Entahlah, hanya berbeda saja. Tepat dua bulan lalu dia berhasil menerka isi... Continue Reading →

Merinduimu Dalam Sabit

Tiga belas hari berlalu, sejak Merinduimu Dalam Purnama. Kali ini masih saja sama, di ruas jalan tol yang padat merayap, lampu-lampu pembangunan terik benderang, beton-beton menancap kokoh di bahu jalan. Klakson silih beriringan, juga sirine dari mobil ambulan. Menyerbu bandara kita, menyerbu pelabuhan kota. Seperti rindu yang saling bersahutan, antara aku dan kalian-kalian. Biar saja aku... Continue Reading →

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑